Pagi datang tanpa sambutan. Langit mendung menggantung rendah, masih menyisakan aroma tanah basah dari hujan yang mengguyur semalaman. Di depan rumah kontrakan kecil mereka, genangan air diam membeku di atas aspal, memantulkan bayangan kabel listrik dan pucuk pohon mangga yang mulai meranggas. Ferdy bangun lebih dulu, seperti biasanya. Tanpa suara, ia melangkah ke dapur, mengenakan kaos tipis dan celana pendek yang bagian pinggangnya mulai longgar. Dapur sempit itu hanya muat untuk satu orang dewasa berdiri. Kompor tua menyala dengan bunyi kecil—ngesiss—saat ia menyalakan api dan meletakkan panci berisi air. Ia menanak nasi sisa semalam. Tidak banyak, mungkin cuma cukup untuk dua piring kecil. Sambil menunggu air mendidih, ia menggoreng dua butir telur ceplok. Satu ia buat setengah matan

