Malam-malam berikutnya, Gina lebih sering lembur. Lampu dapur sudah dimatikan. Hanya cahaya temaram dari lampu gantung ruang tengah yang menyala, menggantung seperti bulan sekarat di langit malam. Suasana rumah sunyi, nyaris tanpa nyawa. Tak ada televisi, tak ada musik, hanya suara kipas angin yang berputar lamban dan kadang berdecit lirih. Di sofa tua yang lapuk busanya, Ferdy tertidur miring dengan posisi setengah duduk. Masih mengenakan kaus lusuh dan celana kerja berdebu, wajahnya tampak lelah tapi damai. Seolah menunggu seseorang yang tak kunjung datang, lalu terlelap karena kecewa yang terlalu sering singgah. Di atas meja kecil di depannya, ada dua piring. Yang satu kosong, sisa nasi menempel di pinggirannya. Yang satu lagi masih penuh—nasi dingin dan telur dadar yang sudah menge

