Dua Kursi, Satu Kebohongan

1629 Words

Langit senja melukis gurat keemasan di atas rooftop kantor. Awan-awan tipis menggantung malas, membiarkan cahaya matahari memudar perlahan seperti detak jam yang tahu dirinya menuju akhir hari. Di tengah teras luas itu, dua kursi kayu elegan menghadap taman buatan yang tenang, seolah dunia berhenti berlari sejenak. Di antara kursi itu: meja kecil, dua gelas kopi hitam yang mulai mendingin, satu piring salad yang tak disentuh, dan—di udara—sebuah keheningan yang menggantung seperti simpul yang belum selesai diikat. Gina duduk tegak, menyilangkan kaki kanan di atas kiri. Gaun kantornya pas membingkai tubuh rampingnya. Rambutnya tidak disanggul seperti biasa, melainkan dibiarkan tergerai, diterpa angin sore yang lembut. Ia tampak ... berbeda. Lelah, tapi memikat. Di seberangnya, Jafran men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD