Malam itu, udara terasa berat. Bukan karena hujan atau panas. Tapi karena kelelahan yang menumpuk, dan pikiran yang berputar seperti roda rusak yang tak kunjung berhenti. Ferdy baru saja pulang dari proyek. Celananya masih basah oleh cipratan semen. Lengan kirinya lebam karena tersandung tumpukan bata saat buru-buru mengangkat adukan. Tubuhnya limbung, dan napasnya berat. Tapi yang paling berat malam itu adalah isi kepalanya. Saat ia tiba, Gina sudah tidur. Rumah kontrakan itu sunyi. Hanya suara kipas angin tua di langit-langit yang memekik pelan. Suara itu seperti rintihan rumah kecil yang bosan jadi saksi atas kebisuan dua manusia yang makin hari makin kehilangan arah. Ferdy tidak langsung mandi. Tidak ganti baju. Ia hanya duduk di lantai, bersandar di dinding, diam seperti batu. B

