Luka dari Masa Lalu.

1022 Words

Pagi itu, kantor masih terasa sibuk dengan ritme hari Senin. Deru mesin printer, suara telepon berdering, hingga langkah karyawan yang hilir-mudik membuat suasana lantai Marketing tak pernah benar-benar sepi. Zola duduk di ruangannya, menekuri beberapa proposal kampanye baru yang menumpuk di mejanya. Matanya lelah, tapi pikirannya tetap fokus. Sejak ia menggantikan posisi Nero sebagai Direktur Marketing, tanggung jawabnya seakan berlipat ganda. Ia baru saja menghela napas panjang ketika pintu diketuk. “Masuk,” jawabnya singkat tanpa menoleh. Pintu terbuka. Langkah perlahan terdengar mendekat, sedikit ragu-ragu. Zola mengangkat kepala—dan matanya langsung membeku. “Zola .…” Suara itu lirih, nyaris bergetar. Erna. Sahabat semasa kuliah, yang dulu begitu dekat dengannya, yang kemudian h

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD