Ferdy menunggu di lobi kantor Zola, mobil hitamnya sudah siap dengan mesin yang diam tapi hangat. Saat Zola keluar, jas dan sepatu haknya yang rapi berpadu dengan tas kerja yang tergenggam, Ferdy tersenyum tipis. Ia membuka pintu mobil untuk Zola, sopan seperti biasanya. “Halo, Sayang. Capek, ya?” Zola hanya mengangguk, memasuki mobil tanpa berkata banyak. Ferdy menutup pintu untuknya, kemudian masuk ke sisi pengemudi, menyalakan mesin, dan mulai melaju keluar dari area parkir. Namun, suasana di mobil terasa sunyi. Zola menatap ke luar jendela, matanya kosong, bahunya sedikit membungkuk seolah menahan beban berat. Ferdy menoleh sebentar, matanya menatap Zola. “Sayang … kamu kenapa? Ada masalah di kantor? Padahal aku yang jemput loh. Aku kan tampan,” goda Ferdy sambil menepuk ringan paha

