Ferdy menatap Zola sekilas, lalu tersenyum tipis. “Dengar sendiri, kan? Jangan pikir kamu sendirian lagi, La. Bahkan Mama juga setuju kalau kamu di sini.” Kamelia lalu bangkit, merapikan rok-nya. “Sudah, aku nggak mau ganggu lama-lama. Aku tahu kalian butuh ruang. Zola, selesaikan dulu obatin Ferdy. Nanti malam kita makan bareng ya.” Ia keluar meninggalkan ruangan, namun sebelum menutup pintu, ia sempat melirik sebentar dengan senyum hangat, lalu menghilang. Keheningan menyergap setelahnya. Zola masih menunduk, pipinya basah. Ferdy tak berhenti menatapnya. “Kamu dengar sendiri tadi,” katanya lembut. “Aku nggak pernah main-main, Zola.” Zola menggenggam erat kapas di tangannya, lalu akhirnya berbisik, “Aku takut, Fer. Takut aku cuma bikin hidupmu tambah ribet.” Ferdy mendekat, menangku

