Pagi dengan Lebam.

1119 Words

Mentari pagi masuk melalui celah gorden. Zola membuka mata, mendapati dirinya masih terperangkap dalam dekapan posesif Ferdy. Tangan kekar pria itu melilit pinggangnya erat, seolah takut kehilangan. Wajah Ferdy tenang dalam tidurnya, meski ada garis samar kelelahan di pelipisnya. Zola memandang lama. Jemarinya refleks menyentuh pipi Ferdy, lalu turun ke arah bahunya. Saat selimut tersingkap, ia terkejut melihat beberapa lebam baru yang semalam tak terlihat—bekas pukulan Nero yang kini menghitam. Ada di lengan, ada di sisi rusuk, bahkan sedikit di perut. “Ya Tuhan …,” bisik Zola, hatinya teriris. Air matanya menitik tanpa sadar. “Semua ini gara-gara aku.” Ferdy menggerakkan kepalanya, matanya perlahan terbuka. Meski masih setengah mengantuk, ia bisa merasakan kegelisahan Zola. “Kenapa na

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD