Pagi itu udara Jakarta masih basah oleh sisa hujan semalam. Gedung-gedung perkantoran berdiri gagah dengan cahaya mentari yang perlahan naik dari timur. Di salah satu gedung tertinggi, logo Diamantan Akuntan Publik terpampang jelas, menandai betapa besar dan mapannya perusahaan milik Dio Diamanta, seorang pria yang dikenal dingin, disiplin, dan tak pernah main-main dalam urusan reputasi keluarga maupun bisnis. Sebuah mobil hitam elegan berhenti di depan lobi. Dari dalamnya turun Aksa Abimana, pria paruh baya yang wibawanya tidak kalah dengan Dio. Mengenakan jas abu-abu yang rapi, langkahnya mantap melewati pintu kaca besar. Resepsionis langsung berdiri dan membungkuk sopan. “Selamat pagi, Tuan Aksa. Silakan, Pak Dio sudah menunggu di ruangannya.” Aksa hanya mengangguk tipis lalu melangk

