Kemeja putih itu kembali meluncur menutupi bahu bidang Ferdy. Gerakannya tenang, penuh ketelitian, seolah tiap lipatan harus sempurna. Sementara di ranjang, Zola masih terbungkus selimut putih, rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah yang merona setelah malam panjang. Ia menatap Ferdy tanpa berkedip, senyum kecil menghiasi bibirnya. “Kenapa buru-buru banget rapih? Kita kan di rumah aku sendiri,” ujarnya menggoda, nada suaranya setengah manja. Ferdy menoleh, kancing kemeja baru terpasang setengah. Ia mengangkat alis sambil melirik ke arah Zola yang setengah bersembunyi di balik selimut. “Kamu lupa, rumah ini juga ada ayahmu? Gimana kalau tiba-tiba beliau pulang lalu naik ke kamar dan nemuin kita begini?” Zola terkekeh, menutupi mulutnya dengan tangan. “Aku rasa Papa nggak ba

