Pagi itu berbeda dari biasanya. Biasanya Zola masih meringkuk di ranjang, menunggu Ferdy yang membangunkannya dengan segelas s**u hangat. Tapi kali ini, suara pintu kamar yang terbuka justru membuat Ferdy terperanjat. Ia membuka mata mendapati Zola sudah rapi dengan blazer kerjanya, berdiri di depan cermin sambil merapikan anting kecil di telinganya. “Zola? Kok cepat sekali siapnya?” suara Ferdy masih serak. Zola hanya menoleh sekilas, memberi senyum tipis. “Aku ada meeting pagi, Fer. Jadi harus berangkat lebih awal.” Belum sempat Ferdy berdiri, Zola sudah mengambil tas kerjanya. Ia menolak tawaran Ferdy untuk menyiapkan sarapan. “Nggak usah, aku beli di jalan aja.” Dan begitu saja, pintu apartemen tertutup. Ferdy duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya. Ada rasa aneh yang menyelusup

