Senyum yang Disembunyikan.

1658 Words

Pagi itu berjalan dengan ritme yang sudah mulai menjadi kebiasaan bagi pasangan muda itu. Ferdy lebih dulu terjaga, menyiapkan air hangat untuk mandi, menyeduh kopi untuk dirinya sendiri, sekaligus menyiapkan s**u hangat untuk Zola. Sejak menikah, rutinitas sederhana ini jadi semacam ritual manis yang membuat keduanya lebih dekat. “Sayang, ayo bangun. Meeting pagi jam sembilan, kan?” Ferdy menepuk lembut pipi Zola yang masih meringkuk di bawah selimut. Zola membuka mata malas, mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum. “Aku mau resign aja, boleh nggak?” “Boleh banget, tapi nanti kamu bakal bosan di rumah. Lagi pula, kamu yang kemarin semangat banget nerima posisi Direktur Marketing,” goda Ferdy, sambil menyelipkan sehelai rambut Zola yang menutupi wajahnya. Zola mengembuskan n

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD