Telpon Tengah Malam.

1102 Words

Malam itu, langit Jakarta kembali gelap, seiring dengan kedatangan hujan yang turun ringan namun menghunjam. Suara tetesan air mengetuk jendela kamar kontrakan mereka dengan ritme yang terlalu teratur—menjadi latar dari keheningan yang tak bisa dipeluk. Ferdy duduk di kursi kayu, matanya tak lepas dari piring kosong di meja makan. Nasi goreng buatannya telah dingin sejak satu jam lalu. Lampu dapur menyala temaram, menyoroti wajahnya yang lelah, mata yang sembab, dan tangan yang menggenggam erat foto lama dari dalam dompet—ia dan Gina, di pantai saat baru menikah. Senyum mereka di foto terasa seperti kenangan dari kehidupan yang berbeda. Hening. Jam di dinding berdetak pelan—22.45. Sudah dua jam sejak pesan terakhirnya terkirim. Tidak dibaca. Tidak dibalas. Ketika akhirnya pintu terbuk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD