Gina yang Berbeda.

1135 Words

Di dalam mobil mewah milik kantor, Gina duduk di kursi penumpang belakang bersama Jafran. Sopir menyetir dalam hening, membiarkan dua atasan itu tenggelam dalam dunia mereka sendiri. “Ini proyek penting,” ucap Jafran, membuka percakapan. Gina mengangguk. “Aku sudah siapkan semua file dan rundown meeting-nya, Pak.” Jafran melirik ke arah Gina—tatapan pria yang tak lagi sekadar kagum, tapi juga terjebak dalam pesona yang ia sendiri sulit tolak. “Boleh gak aku minta kamu panggil nama aku aja ... saat kita gak di kantor?” katanya pelan. Gina menoleh. Jantungnya berdegup, tapi wajahnya tetap dingin. “Kita tetap atasan dan bawahan, kan?” Jafran tersenyum tipis. “Tapi kita juga manusia.” Mereka terdiam. Namun di antara jeda itu, ada sesuatu yang mulai menjalar di antara mereka—ketertarikan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD