Matahari baru merangkak naik ketika suara burung di halaman terdengar sayup. Tirai kamar belum terbuka, ruangan masih temaram dengan sinar tipis yang menerobos dari celah kecil. Ferdy membuka mata perlahan, tubuhnya masih dilingkupi hangat Zola yang tertidur pulas di dadanya. Rambut istrinya tergerai, sebagian menutupi wajah yang tampak tenang setelah malam panjang penuh air mata. Ia menghela napas panjang. Ada rasa lega sekaligus bersalah. Lega karena akhirnya mereka berdamai, tapi bersalah karena ia membiarkan emosi menguasainya semalam, membiarkan cemburu dan gengsi hampir menghancurkan mereka. "Aku harus berubah," batin Ferdy. "Bukan cuma Zola yang harus belajar percaya, aku juga harus belajar menahan rasa cemburu yang kadang nggak masuk akal." Tangannya bergerak pelan mengusap pun

