Langit sore tampak cerah. Tapi hati Ferdy, seperti biasa, mendung. Kaus oblong lusuhnya sudah basah oleh keringat. Ia menyeka dahinya, lalu kembali mengangkat ember berisi pasir. Proyek pembangunan rumah mewah itu nyaris rampung—tinggal sentuhan akhir: pengecatan pagar besi, pembersihan taman, dan renovasi kecil di kamar bayi. Rumah itu megah. Dinding tinggi, jendela-jendela besar, dan taman depan yang akan dihiasi bunga impor. Setiap kali Ferdy berdiri di depan pagar itu, ia merasa sedang menatap dunia yang tak pernah didesain untuknya. Dunia yang hangat, terang, dan berlimpah. Tapi bukan miliknya. Hari itu, sebuah undangan berwarna biru muda tertempel di sisi gerbang, dilaminasi plastik agar tak rusak oleh hujan atau debu proyek. Ferdy mendekat. Di sudut atasnya tertulis dalam hur

