Reza berdiri di tengah dapur Nadira’s Table dengan kedua tangan bertumpu ringan di meja stainless. Aroma kaldu, rempah, dan roti panggang masih bercampur di udara. Suasana malam itu lebih tenang dari biasanya, seperti ikut memberi ruang pada keputusan yang sudah ia buat sejak dua hari lalu. Ia memandang satu per satu wajah timnya. Orang - orang yang selama ini berdiri bersamanya, melewati jam - jam sibuk, kritik tamu, dan kepuasan yang hanya bisa dirasakan setelah dapur benar - benar hening. "Besok saya cuti tiga hari," ucap Reza akhirnya, nadanya tenang tapi tegas. "Jumat saya masuk di jam dinner. Semua sudah saya koordinasikan dalam pembagian tugas. Menu andalan saya off dulu, ya. Fokus ke menu reguler." Chef pendamping mengangguk cepat. Mereka paham. Bahkan sebelum Reza selesai bicar

