Tidak Sendiri.

1212 Words

Kafe kecil menjadi saksi pertemuan itu. Tidak semewah tempat arisan kemarin, tapi justru suasananya lebih hangat dan akrab. Ratna sudah duduk di sana, mengenakan blus sederhana, tanpa perhiasan mencolok. Senyumnya tulus ketika melihat Nayara datang. “Naya .…” Dhita berdiri, memeluknya erat, seolah jarak waktu tidak pernah ada di antara mereka. Nayara membalas pelukan itu, lalu duduk. Ada sejenak hening sebelum mereka saling bertukar pandang. “Aku tahu kamu mungkin nggak nyaman aku tiba-tiba ngajak ketemu,” kata Dhita hati-hati. “Tapi aku merasa perlu bicara. Aku nggak tahan lihat mereka kemarin … cara mereka ngomongin kamu di arisan itu.” Nayara menarik napas panjang, berusaha tetap tenang. “Aku sudah terbiasa, Dhita. Namanya juga dunia mereka, penuh bisikan.” “Tapi kamu nggak sendiri

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD