Arga berdiri lagi, menatap Nayara dengan mata merah. “Nayara, tolong. Jangan buat kesimpulan yang kamu sendiri nggak yakin. Shanaya itu … dia lagi nggak stabil. Aku cuma—” “Cuma apa?” Nayara memotong cepat. “Cuma ngasih dia harapan? Cuma biarin dia nangis di pelukan kamu? Cuma jawab telponnya malam-malam, diem-diem dari aku?” Arga terdiam. Hatinya diremas rasa bersalah. Tapi di sisi lain, ia merasa terkunci. Kalau ia terlalu keras menyangkal, Nayara akan menganggapnya bohong. Kalau ia jujur, rumah tangganya bisa hancur seketika. “Nay ….” Arga menarik napas panjang, suaranya melemah. “Aku nggak bisa biarin dia sendirian. Dia … bisa nyakitin dirinya sendiri.” Jawaban itu justru membuat Nayara semakin terpukul. Wajahnya memucat, air mata semakin deras mengalir. “Jadi kamu lebih khawatir s

