Malam yang Terlambat.

1135 Words

Rumah keluarga Arga dan Nayara sudah lama terlelap dalam keheningan. Dari luar, bangunan dua lantai itu tampak tenang, seolah seluruh penghuninya sudah beristirahat dengan damai. Namun di dalam, ada seorang perempuan yang masih terjaga, duduk di ruang keluarga dengan selimut tipis menutupi bahunya. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh. Bunyi detiknya begitu jelas di telinga Nayara. Suara itu seperti palu yang mengetuk kesadarannya, mengingatkan setiap menit yang terlewat tanpa kabar dari suaminya. Anak-anak sudah tidur sejak pukul delapan. Shaila sempat merengek, matanya berkaca-kaca ketika bertanya, “Ayah belum pulang, Bun?” Nayara menahan perih di dadanya. Ia hanya bisa mengusap rambut putrinya, memberi senyum yang hambar. “Ayah kerja. Tidur dulu, Nak. Kalau Ayah pu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD