Pagi itu, aroma kopi dan roti panggang memenuhi dapur rumah keluarga kecil itu. Suasana dapur yang biasanya terasa hangat, kini seperti dibungkus lapisan tipis kegelisahan yang hanya dirasakan Nayara. Ia bergerak lincah, menyiapkan sarapan: sepotong roti untuk Dharma yang selalu terburu-buru, semangkuk cereal dengan potongan pisang untuk Shaila yang manis, dan segelas kopi hitam untuk dirinya sendiri. Arga turun dari lantai atas dengan langkah mantap. Kemeja kerjanya rapi, dasi biru tua terikat longgar, dan ponsel tetap berada dalam genggamannya. Wajahnya tampak lebih segar dibanding malam sebelumnya, seolah tidur singkat tadi mampu menyapu bersih sisa perdebatan yang masih menggantung. “Pagi, Ayah!” seru Shaila riang, melambaikan sendok cerealnya dengan gembira. Arga tersenyum tipis, l

