Awal yang Manis, Luka yang Tertanam.

1135 Words

“Nayara Vismaya Pradipta, maukah kamu menikah denganku?” Nayara tertegun. “Arga … ini serius?” “Tidak ada hal yang lebih serius daripada ini.” Air mata Nayara jatuh. Ia tahu jalan ke depan tidak mudah, tapi hatinya sudah bulat. “Ya. Aku mau.” Hari pernikahan mereka berlangsung sederhana namun hangat. Meski sebagian keluarga Maheswara hadir dengan wajah masam, Arga tidak peduli. Ia menatap Nayara dengan mata berbinar saat mengucapkan ijab kabul. Di pelaminan, ia berbisik, “Mulai hari ini, kamu rumahku.” Nayara tersenyum, hatinya penuh harap. Malam pertama mereka diwarnai tawa, bukan sekadar gairah. Mereka saling bercerita tentang mimpi-mimpi. “Dua anak. Satu laki-laki, satu perempuan,” kata Arga sambil tertawa. “Seimbang sekali,” jawab Nayara. Doa itu terkabul. Dharma dan Shaila l

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD