Arga pulang lebih awal dari biasanya malam itu. Jarum jam baru menunjuk pukul delapan, namun suara deru mobilnya sudah terdengar dari halaman. Aroma parfum maskulin yang khas—aroma yang dulu selalu menenangkan Nayara—masih menempel kuat saat ia melangkah masuk ke ruang keluarga. “Sayang, aku pulang,” ucapnya dengan nada lembut, seolah hari-hari larut dan rapat mendadak tak pernah ada. Nada suaranya hangat, sedikit berbeda dari beberapa malam terakhir. Nayara, yang sedang membantu Shaila merapikan puzzle di karpet, mendongak sekilas. Senyum kecil ia hadirkan, senyum yang sekadar formalitas, bukan dari kedalaman hati. Di dadanya masih ada riak, seperti ombak kecil yang tak pernah benar-benar reda. “Ayah pulang!” seru Shaila riang, matanya berbinar. Bocah itu langsung bangkit dan berlari k

