Malam itu, rumah tampak lebih hening dari biasanya. Lampu-lampu di ruang tamu menyala redup, hanya menerangi sebagian ruangan. Dari kamar anak-anak, terdengar napas Shaila yang perlahan menandakan putrinya sudah tidur pulas. Dharma duduk di sofa, masih memegang buku cerita yang ia baca setengah sadar. Nayara duduk di kursi makan, menatap kosong cangkir teh hangat yang baru saja ia seduh. Tubuhnya lelah, kepala pening, tetapi yang lebih menyiksa adalah rasa hampa di d**a. Hampa karena rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya kini terasa asing. Arga selalu pulang larut malam, setiap kali ia pulang pun wajahnya tampak jauh, matanya kosong seperti menatap dunia lain. Aroma parfum yang menempel di bajunya membuat hati Nayara semakin perih, aroma yang ia kenali bukan miliknya.

