Di gedung perkantoran pusat kota, suasana pagi sudah ramai dengan lalu-lalang karyawan yang membawa map, laptop, dan secangkir kopi hangat. Lampu kristal besar menggantung di lobi, memantulkan kilauan yang membuat ruangan terlihat mewah dan berkelas. Shanaya sudah menunggu di sana. Ia mengenakan setelan blazer krem yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Blazer itu dipadukan dengan rok pensil selutut, cukup formal untuk rapat, tapi cukup menonjolkan sisi femininnya. Wajahnya dipoles riasan tipis natural, namun tetap anggun dan memancarkan kepercayaan diri. Begitu pintu kaca terbuka dan Arga melangkah masuk, Shanaya langsung berdiri. Senyum hangat merekah di bibirnya, membuat beberapa pasang mata di lobi sempat menoleh. “Pagi, Ar,” sapanya manis. Nada suaranya dibuat selembut mun

