Malam di apartemen Mahesa terasa pekat, meski lampu gantung di ruang tamu menyala terang. Aroma rokok bercampur dengan bau kopi pahit yang masih mengepul di atas meja kaca. Mahesa duduk bersandar di sofa, matanya menatap kosong pada layar laptop yang terbuka di depannya. Deretan data dan angka-angka bisnis terpampang jelas, namun pikirannya melayang jauh, tidak lagi fokus pada pekerjaan. Di sebelahnya, sebuah amplop putih berisi hasil pemeriksaan medis Shanaya masih tergeletak. Tulisan "Positif Hamil" di pojok bawah lembaran itu seakan menari-nari, mengejek sekaligus mengingatkan betapa rapuhnya keadaan saat ini. Mahesa menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya. Ujung rokok di jarinya menyala merah, lalu redup ketika ia menghembuskan asap panjang. Dalam kabut tipis itu, pikirann

