Malam itu rumah terasa sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang menghitung waktu dengan lambat. Arga duduk sendiri di ruang kerjanya, lampu meja menyala temaram, menyorot dokumen yang tak pernah disentuhnya. Kopi yang ia buat beberapa jam lalu sudah dingin, tapi ia tidak peduli. Hatinya kacau. Sejak sore tadi, satu pikiran terus menghantui: Shanaya. Sosoknya yang anggun dan senyum tipisnya yang begitu menakutkan di rumah sakit. Poli Obgyn. Map putih yang ia bawa. Kata-kata yang diucapkannya—seolah menyembunyikan rahasia besar. Arga menutup mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Tapi bayangan itu tetap muncul, terus menekan pikirannya. Bayi itu … anak siapa? Apakah benar anak itu miliknya? Ia meneguk kopi dingin, rasa pahitnya menempel di lidah. Ia ingin menepis semua prasangka, in

