Sejak malam itu, jarak di antara Arga dan Nayara semakin terasa. Arga mencoba menepis rasa bersalah dan cemas dengan menampilkan wajah tenang, bahkan kadang bersikap hangat. Namun, Nayara telah menempatkan benteng di hatinya. Ia masih peduli pada Arga, tapi setiap langkah suaminya kini ditimbang dengan sangat hati-hati. Pagi itu, Arga bangun lebih dulu. Matahari baru menembus tirai jendela kamar, sinarnya lembut di atas ranjang. Ia menatap Nayara yang masih terlelap, wajahnya tenang, rambut hitam terurai di bantal. Ada dorongan kuat di d**a untuk memeluknya, mencium, dan merasakan hangatnya istrinya. Dengan hati-hati, ia menggeser selimut dan meraih tangan Nayara, menyentuhnya lembut. "Nayara … bangun," ucapnya pelan, berharap ia akan tersenyum. Nayara bergerak sedikit, tapi tidak membu

