Pagi itu, apartemen Indira terasa berbeda. Biasanya, Mahesa sudah bangun lebih awal, menyiapkan sarapan atau setidaknya mengirim pesan manis sebelum berangkat. Tapi hari ini, ia bangun sendiri, mencari secangkir kopi, dan duduk di ruang tamu dengan wajah setengah muram. Suara ketukan ringan jam dinding terasa lebih nyaring, seolah menandakan sesuatu yang salah. Indira menatap Mahesa dari pintu dapur. Ia mencoba tersenyum, tapi senyum itu tak menemukan pantulan di mata suaminya. Mahesa menunduk, menatap ponselnya tanpa ekspresi. Jarak di antara mereka terasa lebih tebal daripada biasanya. “Mas Esa … kamu baik-baik saja?” tanya Indira, suaranya pelan, mencoba menyelusup ke dalam ruang hatinya yang sepi. Mahesa mengangkat kepala sebentar, matanya menatap kosong. “Aku baik,” jawabnya datar,

