Pagi itu, Arga menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras. Pikiran tentang percakapan semalam dengan Nayara terus menghantui. Kata-kata yang terlontar dari bibir istrinya begitu tajam, sampai menusuk rasa percaya dirinya: "Kalau benar Shanaya hamil anakmu, aku minta cerai, dan hak asuh Dharma dan Shaila harus tetap di tanganku." Seharian kemarin, Arga tidak sempat menemui Shanaya di kantor. Ia tidak tahu apa benar wanita itu hamil, dan jika benar, siapa ayahnya. Rasa cemas dan panik bergolak di dadanya, namun ego dan gengsinya membuatnya menahan diri untuk tidak memikirkan hal itu terlalu terbuka. Ia tidak bisa membiarkan diri terlihat panik, apalagi di hadapan Nayara. Tangannya mengepal di atas meja makan. Di sampingnya, piring nasi goreng buatan Mbok Darmi tidak disentuh. Anak-ana

