Rapat sore itu baru saja selesai ketika Shanaya melangkah ke ruang kerja Arga. Matanya tampak sembab, wajahnya dipulas dengan rias tipis agar tidak terlalu kentara, tetapi sorot sendunya sengaja tidak ia sembunyikan. Di tangan, ia membawa map kosong hanya sebagai alasan masuk. Arga yang tengah merapikan dokumen mendongak. “Shanaya? Ada apa?” Perempuan itu menggigit bibir, lalu menunduk. “Arga … aku minta maaf kalau mengganggu. Aku… aku cuma butuh tempat untuk bicara.” Arga berdiri, khawatir. “Kenapa? Ada masalah dengan klien?” Shanaya menggeleng, air mata mulai berlinang. “Bukan … bukan soal kerjaan. Tapi soal Nayara.” Nama istrinya keluar dari mulut Shanaya membuat d**a Arga langsung mengeras. “Kenapa dengan Nayara?” tanyanya, suaranya kaku. Shanaya menarik napas panjang, seolah men

