Arga Memilih Menghadiri Rapat dengan Shanaya.

1186 Words

Setiap kali suhu tubuh putrinya naik lagi, Nayara langsung mengganti kompres, memeluknya, mengelus lembut agar tidur nyenyak. Di sela keheningan, suara batuk kecil Dharma terdengar dari kamar sebelah. Nayara menoleh panik. Jangan sampai Dharma ikut sakit. Ia menutup selimut Shaila rapat-rapat, lalu keluar sebentar untuk mengecek putra sulungnya. Syukurlah, hanya batuk ringan, bukan demam. Saat kembali ke kamar Shaila, air mata Nayara menetes. Ia merasa seluruh beban dunia menindih pundaknya. “Kenapa semua harus aku jalani sendiri …,” gumamnya. *** Cahaya matahari samar-samar menembus tirai saat Shaila terbangun. Wajahnya masih pucat, tapi panas sudah sedikit turun. “Bunda .…” Suaranya serak. Nayara tersenyum tipis. “Iya sayang, Bunda di sini. Kamu haus? Mau s**u atau air putih?” “A

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD