Ruang rapat terasa hampa meskipun beberapa pengacara senior dari firma hukum sudah duduk rapi dengan koper mereka. Biantara melirik kursi kosong di sebelah kursi pimpinan delegasi hukum, tempat yang seharusnya diduduki oleh Aruna. "Di mana Aruna?" tanya Biantara dingin, matanya menatap tajam ke arah pengacara pengganti yang tampak gugup. "Nona Aruna sedang berhalangan hadir, Tuan Narendra. Saya yang akan menggantikan tugasnya untuk memaparkan poin-poin hari ini. Nama saya—" "Aku tidak tanya namamu," potong Biantara ketus. "Kenapa dia tidak datang? Ini rapat penting." "Beliau... sedang kurang sehat, Tuan. Tapi semua berkas sudah saya siapkan dengan matang sesuai instruksi beliau, jadi jalannya rapat tidak akan terganggu sedikit pun." Biantara bersedekap, merasa ada sesuatu yang mengg

