"Tuan muda, Nona Aruna mengirim perwakilan lagi hari ini," lapor sekretarisnya dengan suara pelan. Biantara melempar pulpennya ke meja. Bunyinya nyaring di ruangan yang sunyi. "Lagi? Ke mana dia?" "Beliau ada janji dengan klien di firma hukum pusat, Tuan." "Klien mana yang lebih penting dari kasus Serigala Hitam?" tanya Biantara dengan nada dingin. "Saya tidak berhak bertanya soal itu, Tuan." Biantara berdiri. Dia tidak peduli dengan rapat yang seharusnya dimulai. Dia melangkah keluar, mengambil ponsel, dan langsung menekan nomor Aruna. Nada sambung berbunyi cukup lama sebelum akhirnya diangkat. "Ya, Tuan Narendra?" suara Aruna terdengar sangat santai, bahkan ada suara denting cangkir di latar belakang. "Kamu di mana? Kita ada rapat pukul sepuluh," ucap Biantara tanpa basa-basi.

