Kabar itu datang seperti petir di siang bolong, menghancurkan ketenangan Manhattan yang baru saja dinikmati Biantara. Di tengah rencananya untuk terus menjerat Aruna dalam permainan posesif yang menyenangkan, sebuah panggilan darurat dari Jakarta mengubah segalanya. Leonel, adik iparnya, mengalami kecelakaan hebat. Dunia seolah berhenti berputar bagi Biantara. Tanpa pikir panjang, ia memerintahkan jet pribadinya disiapkan dalam waktu kurang dari satu jam. Ia harus pulang. Jakarta sedang berdarah, dan adiknya sedang menjerit ketakutan di sana. Jet pribadi Biantara baru saja melewati wilayah udara Samudra Pasifik saat ia melempar tabletnya ke atas meja sofa pesawat dengan kasar. Di dalam kabin yang mewah namun terasa menyesakkan itu, napas Biantara terdengar berat dan tidak berat

