24

2157 Words

Pintu apartemen itu sudah tertutup rapat. Namun Revan masih berdiri di depannya. Ya... Baru saja Nayara mengusirnya. Menutup pintu itu rapat-rapat setelah mendorongnya keluar. Tangannya menggantung di udara, seolah ragu antara ingin mengetuk lagi atau benar-benar pergi. Dadanya terasa sesak, lebih sesak daripada saat menghadapi pasien terberat sekalipun. Ia mengusap wajahnya kasar. Sedikit menyesali kebodohannya. seharusnya ia tak mengungkut masa lalu. Ujung-unjungnya hanya penolakan lagi yang ia terima. “Bodoh lo, Van…” gumamnya pada diri sendiri. Pertanyaannya tadi memang jujur. Tapi mungkin terlalu cepat. Terlalu mendadak. Dan Nayara jelas belum siap. Revan menghembuskan napas panjang. Namun alih-alih melangkah pergi, kakinya justru tetap terpaku. Ia menatap pintu itu lagi. Seola

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD