Revan keluar dari ruang pertemuan itu dengan langkah yang tidak lagi seimbang. Dadanya terasa penuh—bukan lega, bukan sesak sepenuhnya—lebih seperti campuran emosi yang tak ia mengerti. Antara senang bertemu dengan Nayara dan melihat bagaimana keadaannya setelah beberapa hari tak bertemu. Dan sesak karena reaksi Nayara yang tak ramah padanya. Kejadian di dalam ruangan itu berputar di kepalanya, bercampur dengan perasaan yang entah kenapa seharusnya sudah ia kubur sejak empat tahun lalu. Ia mengusap tengkuknya, menunduk sesaat, lalu melangkah menyusuri lorong kantor Radith Creative House. Suara keyboard, tawa kecil, dan diskusi ringan terdengar samar. Dunia berjalan normal—hanya dirinya yang terasa tertinggal. Dan seolah ditarik ke masa lalu. Sampai langkahnya terhenti. Disaat matanya

