Sinar membeku setelah membuka pintu ruangannya. Saat matanya bersirobok dengan Pras, pria itu langsung membuka suara. “Buruan ke sini!” titah Pras yang sejak tadi tidak mengubah posisinya sama sekali. “Liurnya netes terus! Dia lapar! Separuh tangannya sudah masuk ke mulut.” Pikiran buruk seketika menguap dari kepala Sinar. Antara lega karena Aya baik-baik saja dan ingin tertawa lepas ketika melihat ekspresi Pras. Pria itu tampak kesal, khawatir, sekaligus jijik ketika tangannya sudah dibasahi oleh liur Aya. “Di meja ada tisu,” ujar Sinar akhirnya menghampiri pria itu. Mengambil tisu pada meja di hadapan Pras, lalu duduk di sebelahnya. “Tinggal kamu lap. Beres!” “Gimana mau ngelap.” Tangan Pras masih kaku memegang tubuh Aya, “Tanganku dua-duanya lagi megang ginian.” Sinar benar-benar

