Kamelia membelai rambut Aksa yang sedang tidur, dipandanginya pria yang menjadi suaminya kini. Wajahnya terlihat lelah serta tidurnya pulas sekali, kantung matanya memiliki bayangan hitam di bawahnya. Aksa pasti lelah menghadapi semua ini, hidupnya jungkir balik dengan drastis, dari seorang pria yang memiliki segalanya, kini dia tak ubahnya seperti pria biasa pada umumnya. Semua harta yang dia punya habis dikeruk Sarah, dan dihadiahkan secara rata pada para mantan pegawainya. Kamelia menghela nafas, tanpa sadar sebutir air mata jatuh begitu saja di pipinya. Cepat dia menghapusnya, jangan sampai Aksa melihatnya. Kamelia meringis memegangi perut bawahnya, terasa seperti ada desakan yang cukup keras sehingga memaksanya untuk berbaring lurus dan mengatur nafas. “Tenanglah, Sayang, Bunda d

