Aksa terpaku diam mendengar jawaban Kamelia, mendadak saja dadanya terasa sesak. Tapi, wajar saja jika Fatya mencemaskan keadaan putrinya, dan dia pasti melihat berita itu di televisi. “Mas,” ucap Kamelia, dia pun takut jika Aksa menyerah padanya. Aksa menghela nafas berat, dia melepaskan tangan Kamelia kemudian duduk di sofa. Mencoba untuk tetap tenang dan berpikir dengan kepala dingin. Kamelia ikut duduk di dekatnya, menatap sendu pada suaminya itu. “Ibu pasti cemas sama kamu, wajar jika dia memintamu untuk pulang,” ucapnya lirih. “Tapi aku nggak mau pulang,” kata Kamelia pelan, dia lalu menatap Aksa. “Sekarang aku takut kamu akan menyerah sama aku, Mas!” ungkapnya mengeluarkan isi hatinya. Aksa cepat menoleh padanya, dia menggeleng serta menggenggam tangan Kamelia erat-erat. “Tid

