Kamelia mengikuti Aksa memasuki ruangan itu, gadis itu menelan saliva dengan gugup manakala melihat adanya sofa panjang dan tempat tidur di dalamnya. “Kamu,” Kamelia berjingkat kaget mendengar suara Aksa yang begitu dekat di sampingnya, dia menoleh dan rupanya Aksa hanya melewatinya. Kamelia pun tertegun mencium wangi parfum maskulin yang segar menyapa hidungnya. Aksa berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan. “Ambilkan pakaianku dari dalam lemari!” perintahnya. Kamelia mengangguk cepat, dia bergegas menuju lemari dan membukanya. Sejenak dia terpana melihat deretan kemeja putih dan jas yang tergantung rapi di dalamnya. “Y-yang mana, Pak?” tanyanya seraya menoleh pada Aksa. Tapi untuk kedua kalinya dia kembali dibuat terpana dengan pemandangan yang ada di hadapannya, yang man

