“Ambilkan sendok di meja sana!” perintah Aksa tiba-tiba, tangannya menunjuk pada meja yang ada di sisi ruangan. “Ya?” sahut Kamelia heran, “sendok?” ulangnya bingung. Aksa mengangguk, “Kamu kurang dengar? Perlu saya ulangi perintah barusan?!” tukasnya. Kamelia seketika gugup mengiyakan, dia bergegas menuju meja yang ditunjuk Aksa, rupanya di sana juga ada alat makan dan bahkan mesin penggiling kopi otomatis. “Kenapa dia malah repot-repot minta dibuatkan kopi?!” gerutu Kamelia sambil mengambil sendok kecil dari sana. Kamelia memutar tubuhnya lagi dan berjalan menuju meja Aksa, yang mana lelaki itu dengan cepat memalingkan pandangannya kembali pada layar komputer di hadapannya. “Ish! Apa itu? Apa dia diam-diam melihat aku? Dasar m***m!” umpat Kamelia dalam hati, merasa dilecehkan secar

