Kamelia tergugu, antara bahagia dan juga lega, tapi di sisi lain ada perasaan tidak nyaman dan sakit karena dia berbahagia di atas bencana orang lain. Bencana, ya … bagi Sarah, dijatuhi talak tiga dan berubah miskin adalah bencana terbesar dan itu semata karena perbuatannya sendiri. Aksa memeluknya erat, membiarkan Kamelia menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya. Sungguh, baginya Kamelia persis seperti Zalikha dan mendiang istrinya, Catleya. Yang malah menangis merasa bersalah ketika orang yang sudah berlaku jahat padanya, sudah mendapatkan balasannya. Aksa tersenyum, dia menepuk-nepuk punggung Kamelia dan membelai rambutnya sampai dia tenang. “Sekarang,” ucap Aksa seraya mengusap pipi Kamelia dengan sayang. “Apa yang kamu inginkan, Kamelia? Kamu akan segera resmi menjadi Nyonya Abim

