Kamelia melihat-lihat ruangan kerja suaminya itu, meski tak seluas dan semewah ketika masih menjadi seorang CEO, tapi yang ini juga terlihat nyaman. “Kenapa?” tanya Aksa, muncul dan berdiri menggandeng bahunya. Kamelia tersenyum, dia balas menggandeng lenga Aksa dengan manja. “Terima kasih sudah bekerja keras hingga ke titik ini, demi kami berdua!” ucapnya mendongak dan senyum bahagia terpancar di wajahnya. Aksa mencium keningnya, mengerti dengan maksud perkataan Kamelia. Dia pun lalu menghela nafas panjang seraya menebarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan kantornya itu. “Dengan tekad dan doa tulus dari istriku tercinta, juga rejeki untuk anak kita, aku yakin mampu melewati semuanya. Terima kasih juga, Sayangku, karena sudah membersamaiku melalui masa sulit dan menemaniku meran

