Bima menginjakkan kaki di apartemen tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul satu pagi. Indri, yang sudah menunggu dengan mata mengantuk di sofa, segera membukakan pintu. Bima memberi isyarat kecil dengan tangannya. "Tidur, Ndri," bisiknya, suaranya serak oleh perjalanan panjang. Indri mengangguk lemas, berbalik menuju kamar tamu tanpa sepatah kata lagi. Bima melangkah masuk ke kamar utama, melemparkan ranselnya di lantai dekat pintu dengan suara gedebuk pelan. Cahaya temaram dari lampu tidur menyinari sosok Calista yang tertidur pulas, tubuhnya meringkuk memeluk bantal, rambutnya yang hitam kecoklatan berserakan di atas sarung bantal putih. Bima berdiri sebentar, hanya memandanginya, sebelum melepas kemeja kotak-kotaknya yang masih berdebu jalanan. Bau matahari, bensin, dan keringat mas

