Mata Nathan terpaku pada layar ponselnya, jempolnya bergerak dengan kecepatan dan ketepatan yang terasah. Satu per satu, unggahan Natasha di media sosial lenyap, postingan sindiran tentang "wanita kaya yang membeli suami orang", tentang "kehamilan yang dijadikan senjata", tentang "keluarga tak tahu malu". Semuanya musnah dalam hitungan detik, seperti debu yang ditiup angin. Bibirnya melengkung tipis. "Wanita dan kebiasaannya," desisnya, dingin. Di folder tersembunyi di ponselnya, dia menyimpan folder yang diberi nama samar "Dokumen Pribadi". Di dalamnya berisi video-video semalam terpajang rapi. Tangkapan layar. Rekaman. Senjata yang cukup untuk membuat Natasha tak bisa berkutik selamanya. Dia belum menggunakannya. Belum saatnya. Ardha dari kursi rodanya mengangkat kepala, suara parau me

