196. Mungkin Saja

1816 Words

Mobil melaju kencang di jalanan Jakarta yang cukup sepi di pukul tiga pagi. Lampu-lampu jalan berpendar cepat di kaca depan, tapi Bima tidak peduli. Matanya fokus ke jalan, satu tangannya mencengkeram stir, tangan yang lain menggenggam erat jemari Calista yang dingin dan basah oleh keringat dingin. Calista menangis tersedu-sedu di kursi penumpang. Suara isaknya pecah, memenuhi kabin mobil yang sunyi. Tubuhnya bergetar hebat, tangannya yang digenggam Bima dia remas kuat-kuat, mencari pegangan di tengah kekacauan. "Sshh, Sayang." Bima mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari, suarara lembut tapi mantap. "Kita akan segera sampai." "Siapa mereka, Bima?" Suara Calista tersendat di antara isak. "Kenapa harus menyakiti Om Nathan?" Bima menghela napas. Dia tidak punya jawaban. "Kita a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD