123. Hanya Tentang Kita

1601 Words

Bima duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya membelakangi cahaya lampu tidur yang remang-remang. Matanya tak lepas dari Calista yang telah terlelap. Napasnya teratur, namun alisnya masih sedikit berkerut, jejak dari kekacauan hari ini. Tangannya yang mungil menggenggam erat tangan Bima, bahkan dalam tidur pun seolah takut kehilangan pegangan. Perlahan, Bima membebaskan tangannya, lalu ujung jarinya dengan lembut menyisir rambut coklat Calista yang berantakan di pipi, menyingkirkannya ke belakang telinga. Dia menarik napas dalam-dalam, suaranya terdengar nyaring di keheningan kamar. Pikiran kembali pada adegan di ruang keluarga tadi, Ivan, dengan senyum sinis dan kata-kata yang seperti belati. Pria itu, sejak awal perkenalan, memang memancarkan aura keras dan ambisi yang tak tersembunyi. Namu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD