Rencana yang hampir sempurna itu runtuh oleh kedatangan putra sulungnya. Citra membayangkan momen penerimaan yang hangat, dukungan dari ayah dan putrinya, tapi yang terjadi justru pengungkapan luka lama di bawah sorot lampu yang terang benderang. Ivan datang bukan sebagai anggota keluarga yang mendukung, melainkan sebagai hakim yang mengadili. Suasana di ruang keluarga itu terasa seperti ruang hampa setelah ledakan. Ucapan Ivan masih menggantung di udara, berat dan beracun, mematikan semua percakapan. Hanya ada suara samar anak-anak di lantai atas, tarikan napas yang disengaja, dan tatapan kosong yang menghindari kontak mata. Ardha adalah yang pertama bergerak. Tangannya yang keriput memegang tongkatnya. "Aku akan beristirahat dulu," gumamnya dengan suara parau oleh kelelahan dan mungkin

