"Abang beneran bilang begitu?" tanya Indri dalam panggilan telepon dari Nathan. "Ya. Tadi kami sudah membicarakannya. Kamu baik-baik saja kan? Bima dan bapak tidak memarahi kamu tadi malam?" Kepala Indri menggeleng cepat. "Tidak. Abang sama Bapak tidak marahin aku. Tapi Abang bilang akan bicara dengan Kakek." "Kami sudah membahasnya. Dan aku harus menyelesaikan tantangan kamu, Sayang. Setelah lulus, aku akan menikahimu." Kalimat terakhirnya diucapkan dengan suara yang pelan. Indri menggigit bibirnya, dia seolah merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya. "Kamu mau kan nikah sama aku, Indri?" tanya Nathan. Indri yang masih menggigit bibirnya tampak malu membalas pertanyaan Nathan, meski pria itu tidak ada di hadapannya. "Sayang kamu masih di sana kan?" "Iya, Om." "Apa itu jawaba

